Archive for the Jeritan Suara Hati Category

Perjamuan Pradifta…. Part 3

Posted in Jeritan Suara Hati on December 16, 2008 by soulofpradifta

Terbujur kaku, tanpa mengerti semua yang telah terjadi. Yang ada hanya tatapan penuh kesinisan melihat berbagai macam bentuk & produk yang dihasilkan dari kapitalisme. Betul, diri bukan sosialisme, komunisme, fundamentalisme, fascisme, dan segala macam isme-isme lainnya. Aku adalah aku yang akan terus bereksperimen dengan substansi dari akar sebuah kehidupan. Walaupun kadang hal itu membuat derita yang dirasakan batin, tapi tetap aku akan selalu tersenyum manis menjalaninya. Perjalanan sakral ini tidak semata-mata merupakan rangkaian realita di mana kontraksi-kontraksi timbul dan dipecahkan oleh kreativitas yang produktif. Akan tetapi hal ini memiliki rancangan intrinsik atau tujuan, yaitu sebuah hasrat untuk membentuk eksistensi seseorang menjadi keseluruhan yang penuh arti dan benar-benar luas yang akan memberikan kesatuan dan keutuhan sempurna bagi hidup aku. Lihatlah langit yang biru, bulan hanya mengintip dengan malunya ke arahku, dan bintang-bintang pun hanya memamerkan cahaya dibalik rasinya. Untuk apa semua itu???? Toh tidak dapat membahagiakanku. Sering terngiang ditelinga, para pujangga, sufi atau novelis mendefinisikan semua itu dengan lantang akan keindahannya, sampai-sampai kita terpana dan terhibur. Apakah benar semua itu ???

Perhatikanlah, walau adzan Shubuh kan berkumandang sebentar lagi, tetap tak bisa membuatku rindu akan belaian kemolekan mereka, yang ada hanya terus mempertanyakan makna dari sebuah eksistensi yang memperkosa diri secara berulang-ulang. Suatu perasaan mencekam yang dipenuhi oleh bumbu rahasia dihadapan friksi duniawi yang kejam dan khayalan belaka. Memang tak mudah untuk dipahami akan konjungsi-konjungsi didalam diri, yang bisa dilakukan ialah berkompromi dalam menghadapi tuntutan kompleksitas. Variabel yang membentuk peranan sentral jiwa yang sedang kelam, seperti sekarang ini. Aku memang bukan malaikat tetapi aku pun bukan iblis, lalu apakah aku manusia???

Read more »

Perjamuan Pradifta…. Part 2

Posted in Jeritan Suara Hati on November 25, 2008 by soulofpradifta

Pelampiasan dansa di tengah keremangan dunia malam, mengeluarkan kepulan asap rokok yang keluar dari mulut dan hidung. Gembira semu tuk hilangkan penat. Memunculkan ledakan angkara murka yang menyesali diri sendiri berupa kebencian hidup. Apakah yang dilakukan ini benar atau tidak….?
…..Tidak dapat dibedakan, seperti berada di zona abu-abu ataukah ini hanya dunia khayal yang sedang di impikan di alam bawah sadar oleh seseorang/zat nun jauh disana.
…..Kan terus bertanya apakah makna hidup ini. Biar bagaimanapun sudah fitrah manusia apabila dia harus mempertanyakan proses ada, berada, & mengada. Berharap jalan hati kan menuntun kepada kemutlakan yang mulia. Itu pasti….. Walau meraihnya harus berjalan dengan tertatih. Percuma di berikan akal pikiran jika tidak digunakan untuk berdialektika dengan realitas kehidupan. Jangan sampai kebodohan membayangi insan walau sekecil atom yang kasat mata.

Waktu terus bergulir, udara dingin masih terus menusuk jantung ditemani rintik-rintik hujan. Kakipun masih terus beranjak kesana kemari mengikuti alunan nada, menari, & meliuk-liukkan tubuh dengan lincahnya.
…..Masih tetap bertanya, bertanya dan bertanya ditengah hingar bingar dentuman musik, mencoba menapaki keresahan bersama angin. Hati kecil berkata….. Tenang saja pintu surga kan selalu terbuka bagi orang yang mengaktualisasikan diri dengan bertrasformasi secara radikal untuk menentang arus yang membelenggu. Tak takut dengan maut yang siap datang menyeruduk, karena melalui pembenaran. Inilah prahara cinta. Kegamanganhati yang emosional, denyut jantung yang dipacu dengan cepat dan riak aliran energi aura irfani dibangunkan dari tidur agar di tuntun menuju kesadaran.

Read more »

Perjamuan Pradifta

Posted in Jeritan Suara Hati on November 15, 2008 by soulofpradifta

Tidak semudah membalikkan telapak tangan, begitu berat beban yang harus dipikul, banyak liku-liku di setiap sisi kehidupan yan harus dihadapi. Jalan terjal dan kasat mata menunggu dengan khidmat bersiap mencengkram diri yang rapuh. Termenung diantara dedaunan gugur disudut sempit di tepi rumah, menanyakan pada diri sendiri, mencoba menghayati apa yang telah dan apa yang akan terjadi kelak. Jiwa terombang-ambing bagai digulung dan diterjam ombak di samudera lepas. Perasaan apakah ini? Inikah yang dinamakan jiwa hampa, Tuhan.

Tubuh ini sepertinya mengalir kekosongan. Hal ini tidak dapat munafikkan, berusaha untuk tidak mempedulikan dan melarikan diri dari semua itu, yang ada hanyalah rentetan masalah yang semakin besar datang dan memenjarakan diri dengan kehampaan. Sendiri, sendiri meratapi diri dalam relung kesepian yang menusuk sukma. Terkadang dalam hati berkata, untuk apa Kau berikan teman bahkan sahabat Tuhan. Jikalau tidak ada satupun yang mau menyusun puzzle yang sedang berserakkan sehingga menjadi utuh kembali menjadi kesempurnaan diri dan mengerti jeritan dan rintihan hati yang sedang rapuh ini.

Read more »