Terbujur kaku, tanpa mengerti semua yang telah terjadi. Yang ada hanya tatapan penuh kesinisan melihat berbagai macam bentuk & produk yang dihasilkan dari kapitalisme. Betul, diri bukan sosialisme, komunisme, fundamentalisme, fascisme, dan segala macam isme-isme lainnya. Aku adalah aku yang akan terus bereksperimen dengan substansi dari akar sebuah kehidupan. Walaupun kadang hal itu membuat derita yang dirasakan batin, tapi tetap aku akan selalu tersenyum manis menjalaninya. Perjalanan sakral ini tidak semata-mata merupakan rangkaian realita di mana kontraksi-kontraksi timbul dan dipecahkan oleh kreativitas yang produktif. Akan tetapi hal ini memiliki rancangan intrinsik atau tujuan, yaitu sebuah hasrat untuk membentuk eksistensi seseorang menjadi keseluruhan yang penuh arti dan benar-benar luas yang akan memberikan kesatuan dan keutuhan sempurna bagi hidup aku. Lihatlah langit yang biru, bulan hanya mengintip dengan malunya ke arahku, dan bintang-bintang pun hanya memamerkan cahaya dibalik rasinya. Untuk apa semua itu???? Toh tidak dapat membahagiakanku. Sering terngiang ditelinga, para pujangga, sufi atau novelis mendefinisikan semua itu dengan lantang akan keindahannya, sampai-sampai kita terpana dan terhibur. Apakah benar semua itu ???
Perhatikanlah, walau adzan Shubuh kan berkumandang sebentar lagi, tetap tak bisa membuatku rindu akan belaian kemolekan mereka, yang ada hanya terus mempertanyakan makna dari sebuah eksistensi yang memperkosa diri secara berulang-ulang. Suatu perasaan mencekam yang dipenuhi oleh bumbu rahasia dihadapan friksi duniawi yang kejam dan khayalan belaka. Memang tak mudah untuk dipahami akan konjungsi-konjungsi didalam diri, yang bisa dilakukan ialah berkompromi dalam menghadapi tuntutan kompleksitas. Variabel yang membentuk peranan sentral jiwa yang sedang kelam, seperti sekarang ini. Aku memang bukan malaikat tetapi aku pun bukan iblis, lalu apakah aku manusia???