Perjamuan Pradifta…. Part 3
Terbujur kaku, tanpa mengerti semua yang telah terjadi. Yang ada hanya tatapan penuh kesinisan melihat berbagai macam bentuk & produk yang dihasilkan dari kapitalisme. Betul, diri bukan sosialisme, komunisme, fundamentalisme, fascisme, dan segala macam isme-isme lainnya. Aku adalah aku yang akan terus bereksperimen dengan substansi dari akar sebuah kehidupan. Walaupun kadang hal itu membuat derita yang dirasakan batin, tapi tetap aku akan selalu tersenyum manis menjalaninya. Perjalanan sakral ini tidak semata-mata merupakan rangkaian realita di mana kontraksi-kontraksi timbul dan dipecahkan oleh kreativitas yang produktif. Akan tetapi hal ini memiliki rancangan intrinsik atau tujuan, yaitu sebuah hasrat untuk membentuk eksistensi seseorang menjadi keseluruhan yang penuh arti dan benar-benar luas yang akan memberikan kesatuan dan keutuhan sempurna bagi hidup aku. Lihatlah langit yang biru, bulan hanya mengintip dengan malunya ke arahku, dan bintang-bintang pun hanya memamerkan cahaya dibalik rasinya. Untuk apa semua itu???? Toh tidak dapat membahagiakanku. Sering terngiang ditelinga, para pujangga, sufi atau novelis mendefinisikan semua itu dengan lantang akan keindahannya, sampai-sampai kita terpana dan terhibur. Apakah benar semua itu ???
Perhatikanlah, walau adzan Shubuh kan berkumandang sebentar lagi, tetap tak bisa membuatku rindu akan belaian kemolekan mereka, yang ada hanya terus mempertanyakan makna dari sebuah eksistensi yang memperkosa diri secara berulang-ulang. Suatu perasaan mencekam yang dipenuhi oleh bumbu rahasia dihadapan friksi duniawi yang kejam dan khayalan belaka. Memang tak mudah untuk dipahami akan konjungsi-konjungsi didalam diri, yang bisa dilakukan ialah berkompromi dalam menghadapi tuntutan kompleksitas. Variabel yang membentuk peranan sentral jiwa yang sedang kelam, seperti sekarang ini. Aku memang bukan malaikat tetapi aku pun bukan iblis, lalu apakah aku manusia???
Jikalau memang begitu, berarti aku harus menganut agama yang rahmatan lil’ alamin untuk menunjukkan ketaatanku kepada Yang Maha Kuasa agar tidak dijatuhkan pada jilatan api neraka seperti yang dijatuhkan Yang Maha Kuasa pada iblis. Owh, aku harus menuju cahaya terang itu, bukan dengan cara menari Darwis ataupun memuji-muji kalimat indahnya Tauhid. Akan tetapi membentuk kesesuaian tingkah, perilaku diri dan pikiran yang dihasilkan dari hati yang dilandaskan oleh ajaran-ajaran yang telah diturunkan melalui wahyu-Nya kepada para Rasul. Pola ini akan terus berlangsung sampai malaikat meniup sangsakala guna menuntun kita menuju keabadian surgawi. Kan ku korbankan seluruh ambisi pribadi kosong yang membuat keegoisanku merajalela dan menjadikanku seperti hidup kehilangan arah & sendiri. Karena bukankah segala sesuatu yang telah kita lakukan & terdapat pada kita merupakan akibat dari apa yang telah kita pikirkan dalam hati yaitu berdasarkan niatan hati dan dibentuk oleh akal pikiran dan di implementasikan melalui perbuatan.
Apabila seseorang berbicara atau bertindak dengan niatan jahat & ingin mencelakakan, maka perasaan bersalah yang disertai penderitaan akan terus mengikuti & menggelayuti tubuh. Seperti harus menahan beban yang berat, namun apabila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang penuh kasih, maka kenyamanan akan mengikutinya seperti bayangan yang tidak pernah lepas meninggalkannya.
Aku mengerti dan faham akan semua itu, lalu bagaimana aku harus melewati hari demi hari yang penuh dengan tikungan terjal yang siap untuk menghancurkan diri. Sepertinya aku hanya sebuah tumbuhan liar yang berada di padang pasir yang tandus, yang digunakan kafilah sebagai pertanda bahwa disitu ada oase yang siap untuk menyegarkan dahaganya.
Dingin menusuk jantung, badai kecewa datang berulang-ulang, kemana harus mengadu. Lalui pengembaraan sunyi tuk menyingkap jati diri, lampiaskan depresi dengan bergelimang tahta dosa tuk mendapatkan perhatian Tuhan dalam kondisi dikejar perasaan sesal tersebut. Aku mencoba menghubungi beberapa orang karib, sangat disayangkan merekapun sibuk dengan dunianya sendiri. Hampir tidak pernah mempedulikan perasaan orang disekitarnya, yang ada hanya kepentingan tuk mendapatkan empati dari diri. Apakah aku harus menerima dengan lapang dada semua itu tanpa harus tahu dan boleh tahu apa arti dibalik tirai rantai berduri ini.
Huahahahahahaha….. ku berteriak di kegelimangan lampu kota indah yang satu persatu mulai padam menandakan matahari akan terbit di sebelah timur. Melihat satu persatu manusia keluar dengan bersenda gurau dari rumah Tuhan. Disini, di tepi jalan ku terbaring tanpa ada yang memperhatikan, berjibaku sendiri melawan getir dunia sambil berujar dalam hati, dimana para manusia yang dikatakan sebagai makhluk paling mulia disisi Yang Maha Agung, yang lebih baik dari iblis atau jin atau malaikat sekalipun, tapi sayang banyak diantara mereka yang beribadah hanya untuk mengejar surga yang dijanjikan dan banyak diantara mereka yang tidak peka terhadap penderitaan disekitarnya.
Sehingga, tidak aneh jika masih banyak orang yang lebih menderita dari aku, misalnya tertekan karena tuntutan ekonomi kapitalistik yang mendera. Terasing dari kegemerlapan hiruk-pikuk modernisasi kehidupan. Tanpa bermaksud mengkambing hitamkan sesuatu, bukan karena tidak siap, bukan karena kondisi. Aku rasa keadaan seperti ini pula yang memposisikan begitu, tetapi karena banyaknya manusia yang menjadi boneka nafsubirahi untuk memonopoli segala sesuatunya. Hampir-hampir tidak ada waktu untuk mengenal lebih dalam lingkungan sekitarnya dengan kondisi seperti itu. Alangkah lebih baik jikalau aku menyimpan rapat segala bentuk permasalahan yang ada dalam aura panca indra.
Walaupun berharap masih ada orang yang mau menolong, membantu, dan menemani aku dari jurang kelam kehidupan ini. Jikalau memang tidak ada, maka aku akan tetap melanjutkan derik nafas ini dalam suatu pengembaraan hening guna menyongsong cerahnya matahari sambil dalam batin ku bergumam: “tak gentar kan ku telusuri lorong-orong berisik, kukayuh perahu menuju samudera hidup, selami riak dalamnya tragedi keterasingan, karena hari esok adalah misteri, kemarin & yang lalu tidak akan terulang. Hari ini adalah keraguan dan masa depan adalah harapan.”
Pada akhirnya biarkanlah asumsi dasar kegamangan yang terikat erat pada diri, mencoba terus menyesatkan. walau bagaimanapun hal ini merupakan penyeimbang & penunjuk jalan agar tidak jatuh kepada jalur lingkaran setan yang perlu dilakukan ialah terus bercinta dengan sang Maha Kuasa karena hidup merupakan suatu kodrat dalam mengambil suatu keputusan & pilihan tepat sehingga dapat direalisasikan dalam bentuk perbuatan. Ini menjadi instrumen yang harus dipegang teguh dalam merajut jalan pencerahan sekaligus menjaganya tetap dalam jalur mata hati yang membukakan pintunya agar dapat menuntunku masuk dan menembus dataran rimba makrifat. Uwh, betapa senangnya diri semalaman membiarkan terbang bersama angin laksana Rasulullah SAW yang mengembara pada malam Isra Mi’raj. Ku menerobos lorong batasan-batasan hierarkis yang membelenggu diri selama ini.
Terima kasih sesat pikir, kau telah menyadarkanku akan pengertian makna hidup yang selama ini ku menjalaninya dengan apa adanya tanpa arah dan terus berjibaku dengan kegelimangan khayal semata. Ku kuak misteri keberadaanku, semata-mata untuk menemukan jati diri dimensi mistis dengan Sang Pencipta guna secara berkesinambungan dapat terus melestarikan kebersamaanku, menggelorakan genangan perjumpaan denganNya. Sekarang inilah aku sang penjagal kegelapan yang siap untuk menyongsong dunia fana yang semakin hari semakin usang. Dipenuhi oleh setan-setan manusi, binatang jalang yang terus bergentayangan menindas kurcaci lemah sambil mengeruk harta duniawi. Owh, arus ku tentang dengan sapa yang hangat, menyeruak ke dalam mimpi buruk untuk menabur tangan kasih Tuhan yang dapat memberikan karunia tanpa batas. Walau hati ini bias, biarkanlah semua orang tidak mengetahuinya karena aku tidak mau membebaninya dengan ratapan penderitaan yang ada dalam diriku. Biarkanlah, karena senyuman sekitarku sudah cukup menghibur. Aku hanya bisa mencurahkan isi hati kepada Sang Maha Kuasa yang kucinta.
December 18, 2008 at 4:29 am
wah udah ada yang baru isi blognya hehehehee……
tambahin lagi ya deeboo tulisannya…..
LuV u so much
December 25, 2008 at 3:07 am
numpang lewat…