Perjamuan Pradifta
Tidak semudah membalikkan telapak tangan, begitu berat beban yang harus dipikul, banyak liku-liku di setiap sisi kehidupan yan harus dihadapi. Jalan terjal dan kasat mata menunggu dengan khidmat bersiap mencengkram diri yang rapuh. Termenung diantara dedaunan gugur disudut sempit di tepi rumah, menanyakan pada diri sendiri, mencoba menghayati apa yang telah dan apa yang akan terjadi kelak. Jiwa terombang-ambing bagai digulung dan diterjam ombak di samudera lepas. Perasaan apakah ini? Inikah yang dinamakan jiwa hampa, Tuhan.
Tubuh ini sepertinya mengalir kekosongan. Hal ini tidak dapat munafikkan, berusaha untuk tidak mempedulikan dan melarikan diri dari semua itu, yang ada hanyalah rentetan masalah yang semakin besar datang dan memenjarakan diri dengan kehampaan. Sendiri, sendiri meratapi diri dalam relung kesepian yang menusuk sukma. Terkadang dalam hati berkata, untuk apa Kau berikan teman bahkan sahabat Tuhan. Jikalau tidak ada satupun yang mau menyusun puzzle yang sedang berserakkan sehingga menjadi utuh kembali menjadi kesempurnaan diri dan mengerti jeritan dan rintihan hati yang sedang rapuh ini.
Mengapa harus selalu diri yang mengalah dan menjaga perasaan teman atau sahabat bahkan orang lain hahahahahahaha, BODOH. Padahal diri sendiri sakit, menangis dalam hati sambil berusaha tegar dalam beraktifitas tanpa ada orang lain yang mau peduli, sadar akan keberadaan, mengerti bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang mulia. Oleh sebab itulah dia diutus untuk dijadikan khalifah di muka bumi. Akan tetapi mau sampai kapan aku harus menyembunyikan muramnya diri ini, dipaksa untuk memakai topeng dan berada dibalik tirai kedok Tuxedo. Berusaha menghibur diri sendiri dengan tersenyum seakan-akan tidak ada apa-apa, berbuat sebaik mungkin sehingga orang lain senang akan keberadaan diri.
Betapa tersiksanya diri, potret seperti inikah yang diinginkan? Tentu tidak. Bangkit dan tunjukkan cara diri tidak mau berjalan di jembatan Shirotol Mustakim dengan siksaan dan harus menghadapi rambut-rambut silet yang mencoba menggoyahkan agar jatuh ke kubangan neraka jahanam dengan sendiri yang kesepian dan kosong. Diri ini terbang secepat cahaya atau setidaknya berjalan perlahan-lahan tapi pasti menaiki binatang menuju eden kebahagiaan. Tuhan, senantisa diri berdoa dan berikhtiar, berikanlah secercah sinar harapan dengan mukjizatMu agar mengangkat jiwa raga ini dari kubangan lumpur hitam yang melumuri darah.
Secara implisit, bukankah aku ada karena aku berfikir dan bertindak yang sesuai. Sehingga jika tidak begitu maka hidup ini akan seperti mayat hidup. Karena itulah Tuhan, dengan segenap Asmaul Husna yang melekat pada Mu, diri senantiasa berfikir dan bertindak bagaimana caranya agar dapat menjadi orang yang di ridhoi Mu Tuhan. Sekujur jiwa pun senantiasa mengucap doa puji dan syukur kepadaMu Tuhan, bukan karena mengharapkan imbalan dariMu. Tetapi karena Kamu Tuhan. Inikah makna dari makhrifat. Sehingga sedih, sendiri yang diri alami hanyalah merupakan cobaan untuk mencapai kesempurnaan, kebahagiaan yang diri dambakan. Diri teringat sebuah kata bahwa Tuhan tempat muara segala muara yang sungainya mengalir limpahan rahmat dan memberi jalan pada hati yang senantiasa tunduk mengayuh biduk ridhoNya. Diri pun teringat akan seorang tokoh Islam yang bernama Zaid ibn ‘Ali ibn Zainal’ Arifin pada saat dia pergi berperang di daerah kufah dengan gigih. Pada saat itu dia bersyair :
Kehinaan Hidup dan Kemuliaan Mati
Keduanya Makanan dan Wewangian bagiku
Jika Mesti Kupilih Salah Satu
Jalan Menuju Kematian Jalan Yang Indah.
Oleh sebab itulah diri mengatakan Selamat Datang Realitas Kehidupan. Kan diri kayuh dengan sekuat tenaga demi mencapai kebenaran dan meninggalkan kekelaman. Inikah HIDUP !!!!!!!!!!!
November 16, 2008 at 8:58 am
hahahaha akhirnya muncul juga tulisan pertama lo
di dunia maya yang hina ini—lanjutkan—
jangan cuma mengikuti trend & mood sesaat
copas dari mana om
-peace-
November 17, 2008 at 6:12 am
enak aja lo copas….
ni hasil meres otak gw nih….
November 17, 2008 at 11:57 am
otak diperes, cucian kali..
becanda kawan—
November 18, 2008 at 9:10 am
hhmm…. tulisannya belom nambah niy